Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Demam Konser BTS: Hotel Ludes Terpesan dalam Hitungan Menit

2026-01-23 | 04:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-22T21:31:40Z
Ruang Iklan

Demam Konser BTS: Hotel Ludes Terpesan dalam Hitungan Menit

Pengumuman jadwal konser tur dunia grup idola K-pop BTS untuk tahun 2026 telah memicu lonjakan drastis dalam pemesanan dan harga akomodasi di sejumlah kota penyelenggara di Korea Selatan, dengan hotel-hotel dilaporkan penuh dalam hitungan jam dan tarif meroket hingga sepuluh kali lipat dari harga normal. Fenomena ini terulang di Busan dan Goyang, Provinsi Gyeonggi, menjelang konser yang dijadwalkan pada April dan Juni 2026, menimbulkan kegembiraan ekonomi lokal sekaligus kekecewaan di kalangan penggemar setia, yang dikenal sebagai ARMY.

Dampak langsung dari pengumuman tur BTS ini terlihat jelas. Di Goyang, hotel-hotel besar dekat stadion tempat konser akan berlangsung pada 9, 11, dan 12 April 2026, telah habis dipesan seketika. Dua hotel, Sono Calm dan Gloucester Hotel, dengan masing-masing 826 dan 422 kamar, dilaporkan penuh terisi dengan tarif mencapai 730.000 won (sekitar Rp8,4 juta) dan 600.000 won (sekitar Rp6,9 juta) per malam. Situasi serupa, bahkan lebih ekstrem, terjadi di Busan yang akan menjadi tuan rumah konser pada 12 dan 13 Juni 2026. Harga kamar hotel di area wisata utama seperti Haeundae, Gwangalli, dan Gijang melonjak tajam. Sebuah hotel bintang lima yang biasanya seharga sekitar 330.000 won (sekitar Rp3,7 juta) kini terdaftar lebih dari 1.000.000 won (sekitar Rp11,4 juta) per malam selama periode konser. Bahkan hotel kelas menengah di Dongnae mengalami kenaikan dari sekitar 68.000 won (sekitar Rp780.000) menjadi 769.000 won (sekitar Rp8,8 juta) per malam. Beberapa laporan menunjukkan tarif penginapan bahkan menembus Rp14 juta untuk satu malam, yang sebelumnya hanya berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta.

Lonjakan permintaan yang tidak terduga ini turut memicu praktik tidak etis di mana beberapa operator hotel membatalkan pemesanan lama secara sepihak untuk menjual kembali kamar dengan harga yang jauh lebih tinggi. Perwakilan bisnis kecil di Goyang, Na Do-eun, menyatakan, "Distrik komersial lokal, yang sempat kesulitan setelah pandemi, kini kembali ramai," menyambut efek positif dari kehadiran BTS. Namun, dampak ekonomi positif ini diiringi ironi dan kemarahan publik atas eksploitasi harga. Walikota Busan, Park Heong Joon, menyatakan pemerintah kota akan mengerahkan seluruh sumber daya administratif untuk mengamankan kesuksesan konser dan mengatasi praktik "getok harga" ini.

Pemerintah Metropolitan Busan telah meluncurkan "Sistem Pelaporan QR Penetapan Harga yang Tidak Wajar" yang memungkinkan wisatawan domestik maupun mancanegara melaporkan langsung tarif hotel yang dianggap tidak wajar. Laporan tersebut akan diteruskan ke Organisasi Pariwisata Korea (KTO) dan pemerintah daerah terkait untuk ditindaklanjuti. Tim inspeksi gabungan juga akan dikerahkan untuk melakukan sidak lapangan, dan hotel yang terbukti melanggar akan dikenakan sanksi administratif, termasuk penurunan peringkat bintang. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bahkan telah memberikan peringatan keras melalui media sosialnya, menegaskan bahwa "tindakan kejam yang merusak tatanan pasar dan merugikan banyak orang harus diberantas hingga akarnya." Fenomena serupa bukan hal baru; pada konser gratis BTS di Busan tahun 2022 yang digelar untuk mendukung kampanye World Expo 2030, hotel-hotel di sekitar lokasi juga menuai kritik karena mematok harga berkali-kali lipat dari tarif reguler.

Dampak jangka panjang dari fenomena ini menggarisbawahi kekuatan ekonomi global dari fandom K-pop, khususnya ARMY. Loyalitas dan daya beli penggemar mendorong lonjakan signifikan dalam sektor pariwisata dan perhotelan, bukan hanya di Korea Selatan tetapi juga di berbagai destinasi konser. Namun, praktik penipuan harga mengancam reputasi kota penyelenggara dan dapat merusak pengalaman penggemar, yang pada akhirnya dapat memengaruhi citra pariwisata suatu wilayah. Kesiapan pemerintah daerah dan industri perhotelan untuk mengelola lonjakan permintaan secara etis dan berkelanjutan menjadi krusial. Ini menuntut kebijakan yang lebih tegas dalam regulasi harga akomodasi untuk acara-acara berskala besar, serta kolaborasi dengan promotor acara untuk memastikan pengalaman yang adil bagi para penggemar yang datang dari seluruh dunia. Tanpa langkah-langkah mitigasi yang efektif, potensi keuntungan ekonomi dari acara berskala global seperti konser BTS dapat tereduksi oleh dampak negatif dari eksploitasi konsumen.