
PT Kereta Api Indonesia (KAI) membatalkan 23 perjalanan kereta api pada Senin, 19 Januari 2026, menyusul genangan banjir yang masih merendam jalur rel antara Stasiun Pekalongan dan Sragi di wilayah Daerah Operasi (Daop) 4 Semarang, Jawa Tengah. Pembatalan ini dilakukan meskipun ketinggian air sudah mulai surut dan berada di bawah kepala rel, namun demi pertimbangan keselamatan operasional.
Manajer Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami para pelanggan. Ia menjelaskan bahwa upaya normalisasi jalur terus dipercepat agar perjalanan kereta api dapat kembali beroperasi secara bertahap. Meskipun jalur sudah dapat dilalui dengan kecepatan terbatas 10-30 km/jam, sejumlah perjalanan kereta tetap dibatalkan atau disesuaikan pola operasinya hingga prasarana dinyatakan sepenuhnya aman.
Dampak banjir yang melanda Pekalongan ini tidak hanya dirasakan pada Senin, 19 Januari. Sejak Sabtu, 17 Januari 2026, jalur kereta di lintas antara Stasiun Pekalongan dan Sragi terendam air, menyebabkan gangguan signifikan pada transportasi kereta api di jalur Pantura Jawa Tengah. Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menyebut bahwa pada Minggu, 18 Januari 2026, total 82 perjalanan kereta api penumpang dan 16 perjalanan kereta barang terdampak pembatalan. Selain itu, 76 perjalanan lainnya mengalami keterlambatan hingga rata-rata 240 menit. KAI mencatat kerugian dari pengembalian tiket saja telah mencapai Rp3,5 miliar untuk periode 15-18 Januari 2026.
Banjir yang melanda Pekalongan kali ini disebut Bobby Rasyidin sebagai peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut, di mana rel kereta api terendam banjir. Hal ini dipicu oleh cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang diperparah oleh jebolnya tanggul dan kondisi air pasang laut, menyebabkan luapan dua sungai yang mengapit jalur rel. Titik terparah genangan berada di kilometer 88+900 hingga 89+100, antara Stasiun Pekalongan dan Sragi.
Pekalongan memang merupakan wilayah dataran rendah di pantai utara Jawa yang sering dilanda banjir dan banjir rob, kombinasi dari curah hujan tinggi, perubahan tata guna lahan, serta pasang surut air laut. Menurut pakar planologi Universitas Diponegoro (Undip) PSDKU Pekalongan, Ade Pugara, buruknya tata ruang perkotaan dan sistem drainase menjadi faktor dominan penyebab banjir limpasan di Pekalongan, diperparah dengan perubahan fungsi lahan resapan menjadi bangunan. Penurunan muka tanah di wilayah pesisir juga turut memperburuk frekuensi dan tinggi banjir rob.
Sebagai respons, KAI menerapkan langkah mitigasi berupa percepatan pemulihan jalur, layanan pemulihan kepada penumpang, dan pemberian pengembalian tiket 100 persen. Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan bahwa perbaikan permanen pada tanggul yang jebol akan segera ditindaklanjuti. Pemerintah Kota Pekalongan juga telah menetapkan status tanggap darurat bencana sejak Sabtu, 17 Januari 2026, menyusul lebih dari 2.000 jiwa mengungsi.
Gangguan operasional akibat banjir di Pekalongan menggarisbawahi kerentanan infrastruktur transportasi nasional terhadap dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem, terutama di jalur Pantura yang merupakan tulang punggung pergerakan logistik dan penumpang. Peristiwa ini menunjukkan urgensi penanganan banjir secara komprehensif, tidak hanya perbaikan darurat, tetapi juga solusi jangka panjang yang melibatkan penataan ruang dan mitigasi bencana terintegrasi untuk mengurangi risiko berulang di masa mendatang.