:strip_icc()/kly-media-production/medias/3611321/original/014876500_1635061240-monkey-4788331_1280.jpg)
Kasus gigitan monyet terhadap wisatawan di Phuket dan sekitarnya semakin menjadi perhatian serius, terutama terkait potensi penularan rabies. Vinnie Modell, seorang sukarelawan asal Inggris yang mendirikan Rescue Team Volunteers Phuket, melaporkan bahwa setidaknya sepuluh turis menerima perawatan medis akibat gigitan monyet selama periode libur Natal dan Tahun Baru baru-baru ini. Insiden-insiden ini menyoroti perilaku berisiko yang terus-menerus dilakukan wisatawan, meskipun peringatan mengenai bahaya yang ditimbulkan oleh kera ekor panjang telah disampaikan berulang kali. Modell menyebutkan bahwa sebagian besar insiden terjadi di Monkey Beach, Koh Phi Phi, dan beberapa di antaranya di Pattaya, menimpa wisatawan berusia 25 hingga 40 tahun dari berbagai negara seperti Inggris, Jerman, dan Israel. Kekhawatiran utama bukan hanya infeksi luka, tetapi juga risiko paparan rabies.
Sejak lama, interaksi antara manusia dan monyet di daerah wisata Thailand, termasuk Phuket, telah menjadi sumber daya tarik sekaligus masalah kesehatan masyarakat. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyarankan wisatawan untuk menjauh dari monyet dan tidak menyentuh atau memberi makan mereka, mengingat monyet dapat membawa virus B (Herpes B) selain rabies, yang dapat menyebabkan penyakit serius atau kematian pada manusia. Gigitan kecil pun dapat membawa risiko kesehatan signifikan karena bakteri dan virus yang ada di mulut monyet. Perawatan pasca-gigitan seringkali melibatkan suntikan langsung ke luka untuk mencegah infeksi bakteri dan potensi paparan rabies, yang bisa menyakitkan. Otoritas kesehatan di Phuket dan pulau-pulau sekitarnya secara konsisten memperingatkan wisatawan untuk tidak memberi makan atau mendekati monyet setelah mencatat berbagai insiden gigitan.
Rabies, penyakit yang mematikan jika tidak ditangani, tetap menjadi perhatian di Thailand. Meskipun Soi Dog Foundation melaporkan risiko rabies yang mendekati nol pada anjing di Phuket berkat program Catch, Neuter, Vaccinate, Return (CNVR) mereka, dengan hanya satu kasus rabies manusia terkonfirmasi dalam 18 tahun terakhir di pulau itu, risiko dari mamalia lain tetap ada. Rabies dapat ditularkan dari semua mamalia, tidak hanya anjing, termasuk kucing, tikus, dan monyet. Laporan menunjukkan bahwa sekitar 31% dari cedera yang memerlukan profilaksis pasca-paparan rabies (PEP) pada pelancong internasional disebabkan oleh primata non-manusia, menempati urutan kedua setelah anjing secara keseluruhan, dan bahkan menjadi penyebab utama di Asia Tenggara. Dalam sebuah survei GeoSentinel, primata non-manusia menyumbang 66% gigitan hewan yang terjadi di Asia Tenggara, dengan wisatawan menjadi bagian yang sangat besar dari paparan ini (92%).
Populasi monyet di beberapa bagian Thailand, terutama di dekat permukiman manusia dan tempat-tempat wisata, terus meningkat. Pemberian makan oleh wisatawan secara signifikan berkontribusi pada pertumbuhan populasi monyet, mengurangi naluri mencari makan alami mereka, dan membuat mereka lebih agresif serta kurang takut pada manusia. Hal ini dapat menyebabkan konflik, pencurian barang, bahkan serangan. Upaya pengendalian populasi telah dilakukan, termasuk sterilisasi, namun belum sepenuhnya berhasil mengatasi pertumbuhan cepat ini. Pada Juli 2023, sejumlah kera berhasil dipindahkan dari Phetchaburi ke Pulau Koh Payu di Phuket sebagai bagian dari proyek percontohan untuk mengurangi konflik manusia-monyet. Namun, tantangan manajemen populasi monyet di area wisata tetap signifikan.
Penting bagi wisatawan untuk memahami bahwa interaksi dengan monyet liar membawa risiko nyata. Saran perjalanan internasional seperti dari Smartraveller Australia dengan jelas menyatakan bahwa hewan di sebagian Thailand dapat membawa rabies dan melarang wisatawan memberi makan, membelai, atau menggoda monyet. Jika digigit atau dicakar oleh monyet atau hewan lain, perawatan medis harus segera dicari. Bangkok Hospital Phuket juga merekomendasikan untuk segera membersihkan luka dengan sabun dan air mengalir selama setidaknya 20 menit dan mencari perhatian medis tanpa penundaan, bahkan untuk luka kecil sekalipun. Peringatan ini semakin ditekankan selama musim puncak wisatawan, ketika pantai dan pusat keramaian turis padat. Langkah-langkah pencegahan harus difokuskan pada wisatawan, termasuk edukasi tentang perilaku aman dengan monyet, promosi profilaksis pra-paparan dan pasca-paparan, serta penyediaan tanda peringatan dan stasiun pertolongan pertama di lokasi-lokasi yang banyak dihuni monyet.