:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5480927/original/059704200_1769071204-WhatsApp_Image_2026-01-22_at_14.55.11.jpeg)
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Indonesia dihadapkan pada kritik tajam dan perbandingan yang kurang menguntungkan dengan Vietnam menyusul data yang menunjukkan ketertinggalan signifikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) Indonesia dalam dua tahun terakhir. Analisis dari ASEAN Statistics Division (ASEANStats) mencatat Indonesia berada di peringkat kelima dengan 14,3 juta wisman pada tahun 2024, jauh di bawah Thailand (35,5 juta), Malaysia (25 juta), Vietnam (17,6 juta), dan Singapura (16,5 juta). Perolehan Vietnam pada tahun 2024 ini melonjak drastis dari hanya 4.000 wisman pada 2021 dan 12,6 juta pada 2023, menunjukkan agresivitas pembenahan ekosistem pariwisata pascapandemi COVID-19.
Kondisi ini telah menjadi alarm bagi para pemangku kepentingan di Indonesia, termasuk Presiden Joko Widodo yang pada Juni 2024 menyatakan ketidakpuasannya atas posisi Indonesia di peringkat kelima ASEAN dalam Indeks Kinerja Pariwisata (TTDI), meskipun peringkat globalnya naik dari 32 menjadi 22. Sandy Pramuji, Senior Analyst NEXT Indonesia Center, menegaskan bahwa posisi pariwisata Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangga, terutama Vietnam yang berhasil menyalip selama dua tahun berturut-turut. Pangsa pasar Indonesia di ASEAN pun terus menciut, dari 13,51 persen pada 2022 menjadi 11,28 persen pada 2024.
Penyebab ketertinggalan ini multi-faktorial. Ketergantungan berlebihan pada Bali dianggap sebagai risiko fatal, dengan program "Bali Baru" dan Destinasi Super Prioritas (DSP) belum efektif akibat ekosistem yang lemah, konektivitas terbatas, dan kesinambungan investasi yang kurang. Masalah konektivitas antar-wilayah di Indonesia, termasuk biaya transportasi domestik yang mahal, menghambat eksplorasi destinasi di luar Bali. Kegagalan menarik pasar Tiongkok juga menjadi sorotan, dengan hanya 1,2 juta kunjungan wisman Tiongkok ke Indonesia pada 2024, sangat jauh dibandingkan Thailand (6,7 juta), Vietnam (3,7 juta), Malaysia (3,3 juta), dan Singapura (3,1 juta).
Sebaliknya, Vietnam dinilai sangat agresif dalam membangun ekosistem pariwisatanya, didukung pembangunan infrastruktur masif seperti Bandara Long Thanh yang diproyeksikan mampu menampung 100 juta penumpang per tahun. Pemerintah Vietnam juga menerapkan reformasi kebijakan visa, termasuk perluasan e-visa untuk 157 negara dan perpanjangan masa tinggal, serta melakukan promosi global yang agresif dan memodernisasi infrastruktur transportasi. Wakil Perdana Menteri Vietnam, Mai Van Chinh, menekankan pergeseran pola pikir dari "pemulihan" ke "pertumbuhan, daya saing, dan pembangunan berkelanjutan" untuk pariwisata negaranya. Pada 2025, Vietnam menargetkan 25 juta pengunjung internasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan bahwa penyesuaian target kinerja pariwisata 2025, dari 14,6–16 juta menjadi 14–15 juta kunjungan wisman, merupakan bagian dari Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2025 yang diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2024. Kemenparekraf berupaya memperkuat sinergi dengan kementerian/lembaga lain untuk meningkatkan indeks daya saing pariwisata. Strategi 2025 meliputi transformasi digital melalui konsep Tourism 5.0, gerakan wisata bersih, dan pengembangan wisata berbasis minat khusus seperti gastronomi, bahari, dan wellness tourism. Pemerintah juga mendorong diversifikasi destinasi melalui penguatan destinasi prioritas, destinasi regeneratif, serta pengembangan desa wisata di luar Jawa guna mengatasi konsentrasi wisnus di Pulau Jawa.
Meski menghadapi tantangan berat, Plt. Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, mengapresiasi capaian wisman Indonesia pada 2024 yang mencapai 13,9 juta kunjungan, sebagai hasil upaya bersama untuk mendorong kinerja sektor pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Ke depan, Kemenparekraf berencana memaksimalkan program pemasaran pariwisata dengan memperhatikan tren baru seperti liburan ke tempat yang belum populer (off-the-beaten-track), wisata pengalaman (experiential tourism), dan wisata minat khusus. Upaya tersebut termasuk partisipasi aktif dalam pameran pariwisata internasional seperti World Travel Market (WTM) di London untuk membangun citra Wonderful Indonesia. Tantangan pemerataan destinasi masih menjadi perhatian utama, dengan 61 persen perjalanan wisnus masih terkonsentrasi di lima provinsi di Pulau Jawa.