
Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan, salah satu ikon wisata paling terkenal di Bangkok, secara resmi meminta maaf pada awal Januari 2026 menyusul serangkaian keluhan publik mengenai perilaku tidak pantas fotografer komersial di dalam kompleks candi. Insiden ini, yang secara spesifik mencuat setelah unggahan media sosial oleh Krisda Witthayakhajorndet, CEO Be On Cloud, menyoroti praktik fotografer yang mengusir pengunjung lain dari spot foto populer demi klien berbayar mereka, menciptakan suasana tidak nyaman dan merusak pengalaman spiritual serta rekreasi bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Masalah ini bukan sekadar insiden terisolasi, melainkan cerminan dari tantangan yang lebih luas dalam mengelola lonjakan pariwisata di situs-situs keagamaan Thailand. Wat Arun menerima rata-rata sekitar 10.000 pengunjung setiap hari, baik peziarah maupun turis, yang sebagian besar tertarik untuk berfoto dengan latar belakang menara prang yang ikonik dan detail dekoratifnya yang terbuat dari porselen Cina serta cangkang laut. Popularitas ini telah memicu pertumbuhan pesat bisnis penyewaan kostum tradisional Thailand dan layanan fotografi di sekitar candi. Krisda Witthayakhajorndet menuduh bahwa beberapa fotografer yang berafiliasi dengan layanan penyewaan kostum ini berulang kali mengganggu turis, termasuk aktor Apo Nattawin Wattanakitiphat, dengan mengklaim ruang publik sebagai milik pribadi.
Menanggapi keluhan yang viral ini, pengelola Wat Arun, dalam pernyataan resminya pada 7 Januari 2026, menyatakan penyesalan mendalam atas ketidaknyamanan yang dialami pengunjung. Pernyataan tersebut juga menggarisbawahi apresiasi candi terhadap masukan publik yang telah membantu merefleksikan pandangan berharga dan berkontribusi pada peninjauan ulang pendekatan candi dalam mengelola serta merawat areanya secara tepat. Langkah konkret segera diambil dengan pengetatan peraturan. Wat Arun kini bekerja sama dengan Kepolisian Metropolitan Bangkok Yai, Kantor Distrik Bangkok Yai, dan Polisi Pariwisata untuk mengatur layanan fotografi. Di bawah kebijakan baru, para fotografer yang berafiliasi dengan toko penyewaan kostum Thailand harus menjalani pelatihan etiket dan tata krama yang selaras dengan peraturan candi sebelum diizinkan beroperasi di dalam kompleks. Selain itu, pengelola candi telah memberlakukan pembatasan seperti zona bebas tripod di teras utama dan batas waktu lima menit per pose saat kerumunan melebihi 200 orang. Identitas yang terlihat juga diwajibkan bagi fotografer.
Implikasi dari insiden ini melampaui batas Wat Arun. Perilaku turis yang tidak etis dan komersialisasi berlebihan di situs suci menjadi perhatian serius bagi sektor pariwisata Thailand, yang menyumbang sekitar 18,21% PDB pada tahun 2019. Ajaran Buddha, yang melandasi budaya Thailand, menekankan pentingnya menjaga harmoni dan rasa hormat, sehingga tindakan yang mengganggu ketenangan di kuil dianggap sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai inti. Penelitian menunjukkan bahwa wisatawan sering kali mengabaikan nilai-nilai moral lokal dan tradisi dengan berfoto di tempat yang tidak diizinkan atau berpakaian tidak pantas di tempat ibadah. Polisi Pariwisata telah meningkatkan patroli dan mengeluarkan peringatan kepada fotografer yang berperilaku tidak pantas. Upaya terkoordinasi ini bertujuan untuk melindungi citra candi sebagai landmark budaya dan pariwisata utama, mendukung pertumbuhan pariwisata berkelanjutan, serta menjunjung tinggi kesucian kuil bersejarah.
Secara historis, Thailand menghadapi tantangan serupa dalam mengelola perilaku turis, mulai dari interaksi tidak etis dengan satwa liar hingga kurangnya rasa hormat di situs budaya. Wat Arun saat ini berusaha menyeimbangkan kebutuhan pariwisata dengan pelestarian situs keagamaan, memastikan bahwa pengalaman pengunjung tetap menyenangkan sekaligus menghormati makna spiritual tempat tersebut. Ke depan, keberhasilan langkah-langkah baru di Wat Arun dapat menjadi model bagi situs-situs keagamaan padat pengunjung lainnya di seluruh Thailand, dengan potensi untuk memperluas sistem izin dan pelatihan etiket untuk menjaga ketenangan spiritual di tengah hiruk pikuk pariwisata modern. Hal ini merupakan bagian penting dari upaya Thailand untuk memastikan pariwisatanya tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara budaya dan lingkungan.